Sri Mulyani Sebut Banyak Negara Saling Belajar Reformasi Anggaran

Sri Mulyani Sebut Banyak Negara Saling Belajar Reformasi Anggaran

Liputan6. com, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengatakan dalam menghadapi pandemi Covid-19 banyak negara di dunia menghadapi defisit yang melebar seperti Indonesia. Dalam situasi seperti ini, Indonesia dan negara lain bisa silih belajar dalam reformasi dan penelitian di bidang anggaran.

“Situasi seperti ini saya taksir di banyak negara bisa silih belajar. Untuk Indonesia, karena kecendekiaan kita yang menyikapi isu pembaruan keuangan publik sebagai salah satu isu prioritas, reformasi dan studi lebih penting dalam situasi bagaikan ini, ” katanya pada pertemuan Public Financial Management Multi Donor Trust Fund (PFM MDTF) III secara virtual, Rabu, seperti ditulis Kamis (12/11).

Dari sisi pendapatan, dia berharap Multi Donor Trust Fund dapat terus mendukung upaya reformasi di bidang perpajakan yang semasa ini dilakukan. Dia yakin pembicaraan pada pertemuan PFM MDTF bisa memberikan saran kebijakan dan pengetahuan.

“Sehingga kami memperoleh apa yang disebut sebagai pola bisnis yang dapat kami kembangkan dan sepakati agar manfaat maksimal dari PFM MDTF ini efektif agar kami dapat terus memajukan dan mereformasi sisi pendapatan, ” ujar Sri Mulyani.

Lebih lanjut, dia menegaskan kalau peningkatan kualitas belanja sangat benar penting. Bukan hanya penyampaiannya, namun juga konsistensi karena belanja negeri melalui banyak jalur, dari Pemerintah Pusat hingga Pemerintah Daerah yang membutuhkan banyak koordinasi.

“Jadi, reformasi pengeluaran adalah lupa satu yang terpenting. Saya meminta bahwa PFM MDTF ini selalu akan mengatasi masalah ini. Apakah akan fokus pada transfer serta akuntabilitas pemerintah daerah, atau akan fokus dengan DJA (Direktorat Jenderal Anggaran) dan DJPB (Direktorat Jenderal Perbendaharaan) tentang bagaimana meningkatkan status belanja Pemerintah Pusat, ” nyata Sri Mulyani.

2 dari 3 kaca

Anggaran APBN

Meski jumlah Multi Donor Trust Fund tidak terlalu besar dibanding anggaran dalam APBN, menurutnya, bagaimana dana tersebut digunakan perlu direncanakan secara tepat sehingga dapat menunjang reformasi keuangan publik.

“Saya rasa fleksibilitas seperti itu akan menjadi salah satu dengan terpenting dari PFM MDTF di dalam melengkapi alokasi anggaran kita mendukung banyak reformasi keuangan publik kita, ” katanya.

Di dalam kesempatan tersebut, Bendahara Negara tersebut juga menyatakan bahwa pengembangan pola teknologi informasi (TI) sangat istimewa dalam transformasi pengelolaan keuangan publik. Dia berharap sistem yang menyesatkan efisien dapat dirancang.

“Sisi pendapatan seperti pajak, beban cukai, pendapatan bukan pajak itu semua sekarang terhubung melalui sistem TI. Begitu pula dari sisi anggaran belanja mulai dari perencanaan hingga transfer ke Pemerintah Daerah ini semakin bergantung pada bentuk TI, ” tandasnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka. com

3 sejak 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: